Forum

Sejarah Kemerdekan ...
 
Notifications
Clear all
Forum Profile
Sejarah Kemerdekan Indonesia
Sejarah Kemerdekan Indonesia
Group: Registered
Joined: 2021-04-23
New Member

About Me

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ditunaikan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 th. Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, yang dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.  
https://sites.google.com/view/caraseru-indexing  
https://docs.google.com/document/d/e/2PACX-1vRogQ7Y9DRLyjVO7Y0zQsPUwhB8gGeBoRchOEMff1CQ96XgX9Z1iH0HFr3Vu_JnU5d8HBrY0A9oZocb/pub  
https://eb-id.blogspot.com/2021/04/website-developer-caraserucom.html  
  
Latar belakang  
Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang terasa menurunkan moral motivasi tentara Jepang di semua dunia. Sehari sesudah itu Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berubah nama jadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut terhitung Dokuritsu Junbi Inkai di dalam bhs Jepang, untuk lebih meyakinkan keinginan dan tujuan capai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom ke-2 dijatuhkan di atas Nagasaki supaya menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.  
Pengibaran bendera pada 17 Agustus 1945.  
  
Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk berjumpa Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan mengimbuhkan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir sudah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menampik wujud kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.  
  
Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, menyebutkan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang bakal segera beri tambahan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan bisa dilaksanakan didalam sebagian hari, berdasarkan tim PPKI. Meskipun demikianlah Jepang inginkan kemerdekaan Indonesia terhadap tanggal 24 Agustus.  
  
Dua hari kemudian, pas Soekarno, Hatta dan Radjiman lagi ke tanah air berasal dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak sehingga Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan sebab berpikiran hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan di dalam kubu nasionalis, pada yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir berkenaan hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang sebenarnya sudah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI kala itu dapat menyebabkan pertumpahan darah yang besar, dan mampu berakibat fatal kecuali para pejuang Indonesia belum siap.  
  
Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan dikarenakan itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir beranggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).  
  
Dikibarkannya bendera Indonesia pada 17 Agustus 1945.  
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang secara formal menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji dapat mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini lewat radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang akan bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.  
  
Namun golongan tua tidak menginginkan terburu-buru. Mereka tidak dambakan terjadinya pertumpahan darah pada sementara proklamasi. Konsultasi pun ditunaikan di dalam wujud rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menghendaki kemerdekaan atas bisnis bangsa kita sendiri, bukan perlindungan Jepang.  
  
Soekarno dan Hatta berkunjung ke penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk mendapatkan konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor selanjutnya kosong.  
  
Soekarno dan Hatta dengan Soebardjo lantas ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyongsong kehadiran mereka bersama dengan ucapan selamat atas kesuksesan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum terima konfirmasi serta masih menanti instruksi dari Tokyo. Sepulang berasal dari Maeda, Soekarno dan Hatta langsung buat persiapan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terhadap pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna mengkaji segala suatu hal yang terjalin bersama dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.  
  
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang meminta pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia semakin memuncak dilancarkan para pemuda dari sebagian golongan. Rapat PPKI terhadap 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilakukan gara-gara Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta BPUPKI Dalam perjalanan histori menuju kemerdekaan Indonesia, dr. Radjiman adalah hanya satu orang yang terlibat secara akif di dalam kancah perjuangan berbangsa dimulai berasal dari timbulnya Boedi Utomo sampai pembentukan BPUPKI. Manuvernya di sementara memimpin Budi Utomo yang mengusulkan pembentukan milisi rakyat disetiap tempat di Indonesia (kesadaran miliki tentara rakyat) dijawab Belanda bersama dengan kompensasi membentuk Volksraad dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil berasal dari Boedi Utomo.  
  
Pada sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945, ia mengajukan pertanyaan "apa dasar negara Indonesia kecuali kelak merdeka?" Pertanyaan ini dijawab oleh Bung Karno bersama dengan Pancasila. Jawaban dan deskripsi Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini sesudah itu ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI didalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi ini menjadi temuan baru didalam sejarah Indonesia yang memaparkan ulang fakta bahwa Soekarno adalah Bapak Bangsa pencetus Pancasila.  
  
Pada tanggal 9 Agustus 1945 ia mempunyai Bung Karno dan Bung Hatta ke Saigon dan Da Lat untuk menemui pimpinan tentara Jepang untuk Asia Timur Raya perihal bersama pengeboman Hiroshima dan Nagasaki yang mengakibatkan Jepang memiliki rencana menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, yang dapat menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia. tidak sadar udah berjalan momen Rengasdengklok.  
  
Peristiwa Rengasdengklok  
Para pemuda pejuang, terhitung Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana terbakar gelora kepahlawanannya sehabis berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka tergabung didalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama dengan Shodanco Singgih, tidak benar seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka mempunyai Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang sesudah itu terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah sehingga Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak dipengaruhi oleh Jepang. Di sini, mereka ulang memastikan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang sudah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.  
  
Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ulang ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo sukses menegaskan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing.  
  
Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan sesudah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai daerah rapat PPKI di terima oleh para tokoh Indonesia.  
  
Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda  
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak sudi terima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura menyampaikan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah di terima perintah dari Tokyo bahwa Jepang kudu merawat status quo, tidak mampu memberi izin untuk menyiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam.  
  
Soekarno dan Hatta menyesali ketetapan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji supaya dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta berharap supaya Nishimura jangan halangi kerja PPKI, barangkali bersama dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda bersama dengan diam-diam meninggalkan ruangan dikarenakan diperingatkan oleh Nishimura sehingga Maeda mematuhi perintah Tokyo dan dia sadar sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di tempat Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.  
  
Setelah dari tempat tinggal Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi peranan jalankan rapat untuk mempersiapkan teks Proklamasi. Setelah memberi salam Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilaksanakan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik.  
  
Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian tersedia kata-kata berasal dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia turut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno meyakinkan bahwa perpindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak tersedia yang membetulkan klaim Nishijima namun di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.  
  
Setelah rancangan selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut memakai mesin ketik yang disita dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler. Pada awalannya pembacaan proklamasi akan dikerjakan di Lapangan Ikada, tapi berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).  
  
Detik-detik pembacaan naskah proklamasi  
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua di dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berjalan pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang diberi tanda tangan teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.  
  
Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah datang antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10.00 bersama dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang udah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul bersama dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta sementara itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.  
  
Pada awalnya Trimurti diminta untuk tingkatkan bendera namun ia menampik bersama alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh karena itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi terlihat berasal dari belakang mempunyai nampan memuat bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka berikut masih disimpan di Istana Merdeka.  
  
Setelah upacara selesai berlangsung, tidak cukup lebih 100 orang bagian Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata singgah tergesa-gesa karena mereka tidak memahami pergantian area mendadak berasal dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno ulangilah pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.  
  
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan mengambil keputusan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai basic negara Republik Indonesia, yang seterusnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikianlah terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berupa Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dikerjakan semuanya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.  
  
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden bakal dibantu oleh sebuah Komite Nasional.  
  
Isi teks proklamasi  
Teks naskah Proklamasi Klad adalah asli merupakan tulisan tangan sendiri oleh Ir. Soekarno sebagai pencatat, dan adalah merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo.  
  
Adapun yang merumuskan proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia terdiri berasal dari Tadashi Maeda, Tomegoro Yoshizumi, S. Nishijima, S. Miyoshi, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo.  
  
Para pemuda yang berada di luar berharap sehingga teks proklamasi bunyinya keras. Namun Jepang tak mengizinkan. Beberapa kata yang dituntut adalah "penyerahan", "dikasihkan", diserahkan", atau "merebut". Akhirnya yang dipilih adalah "pemindahan kekuasaan". Setelah dirumuskan dan dibacakan di tempat tinggal orang Jepang, mengisi proklamasi pun disiarkan di radio Jepang.  
  
Berikut mengisi proklamasi tersebut:  
Proklamasi  
Kami bangsa Indonesia bersama dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.  
Hal2 jang perihal perpindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan di dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.  
  
Djakarta, 17 - 8 - '05  
Wakil2 bangsa Indonesia.  
  
Naskah Proklamasi Klad ini ditinggal begitu saja dan apalagi sempat masuk ke daerah sampah di tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda. B.M. Diah menyelamatkan naskah bersejarah ini dari daerah sampah dan menyimpannya sepanjang 46 tahun 9 bulan 19 hari, hingga diserahkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha pada 29 Mei 1992.  
  
Naskah baru setelah mengalami perubahan  
Teks Naskah Proklamasi Otentik yang diletakkan di Monumen Nasional  
Teks naskah Proklamasi yang sudah mengalami perubahan, yang dikenal bersama sebutan naskah "Proklamasi Otentik", adalah merupakan hasil ketikan oleh Mohamad Ibnu Sayuti Melik (seorang tokoh pemuda yang ikut andil didalam persiapan Proklamasi), yang isinya adalah sebagai tersebut :  
  
P R O K L A M A S I  
Kami bangsa Indonesia bersama dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.  
Hal-hal jang tentang pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan bersama tjara saksama dan di dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.  
  
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05  
Atas nama bangsa Indonesia.  
Soekarno/Hatta.  
  
(Keterangan: Tahun terhadap ke-2 teks naskah Proklamasi di atas (baik terhadap teks naskah Proklamasi Klad maupun pada teks naskah Proklamasi Otentik) tertulis angka "tahun 05" yang merupakan kependekan dari angka "tahun 2605", karena th. penanggalan yang dipergunakan terhadap zaman pemerintah pendudukan militer Jepang pas itu adalah cocok dengan tahun penanggalan yang berlaku di Jepang, yang waktu itu adalah "tahun 2605".)  
  
Perbedaan teks naskah Proklamasi Klad dan Otentik  
Teks Proklamasi yang tercantum terhadap uang pecahan 100,000 Rupiah.  
Di di dalam teks naskah Proklamasi Otentik telah mengalami beberapa perubahan yaitu sebagai tersebut :  
Kata "Proklamasi" diubah jadi "P R O K L A M A S I",  
Kata "Hal2" diubah menjadi "Hal-hal",  
Kata "tempoh" diubah menjadi "tempo",  
Kata "Djakarta, 17 - 8 - '05" diubah jadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05",  
Kata "Wakil2 bangsa Indonesia" diubah jadi "Atas nama bangsa Indonesia",  
Isi naskah Proklamasi Klad adalah asli merupakan tulisan tangan sendiri oleh Ir. Soekarno sebagai pencatat, dan adalah merupakan hasil gubahan (karangan) oleh Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo. Sedangkan mengisi naskah Proklamasi Otentik adalah merupakan hasil ketikan oleh Mohamad Ibnu Sayuti Melik (seorang tokoh pemuda yang turut andil di dalam persiapan Proklamasi),  
  
Pada naskah Proklamasi Klad memang tidak ditandatangani, sedangkan terhadap naskah Proklamasi Otentik sudah ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.  
  
Tempat Pembacaan teks naskah Proklamasi Otentik oleh Ir. Soekarno untuk pertama kali adalah di Jalan Pegangsaan Timur 56 - Jakarta Pusat, pas pada tanggal 17 Agustus 1945 (hari di mana diperingati sebagai "Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia"), pukul 11.30 kala Nippon (sebutan untuk negara Jepang terhadap selagi itu). Waktu Nippon adalah merupakan patokan zona kala yang dipakai terhadap zaman pemerintah pendudukan militer Jepang selagi itu. Namun mesti diketahui pula bahwa pada selagi teks naskah Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno, waktu itu tidak tersedia yang merekam nada ataupun video, yang tersedia sekedar dokumentasi foto.  
  
Suara asli berasal dari Ir. Soekarno selagi membacakan teks naskah Proklamasi yang kerap kami dengar waktu ini adalah bukan nada yang direkam terhadap tanggal terhadap tanggal 17 Agustus 1945 tetapi adalah nada asli Soekarno yang direkam terhadap tahun 1951 di studio Radio Republik Indonesia (RRI), yang sekarang bertempat di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5 – Jakarta Pusat. Dokumentasi berbentuk nada asli hasil rekaman atas pembacaan teks naskah Proklamasi oleh Bung Karno ini dapat terwujudkan adalah berkat prakarsa berasal dari salah satu pendiri RRI, Jusuf Ronodipuro.  
  
Teks pidato proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia  
Tugu Proklamasi di Jalan Proklamasi (dulu Jalan Pegangsaan Timur) tempat dibacakannya Naskah Proklamasi Otentik terhadap tanggal 17 Agustus 1945  
  
Berikut ini adalah teks pidato Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.  
  
Saudara-saudara sekalian,  
Saya sudah minta saudara-saudara hadir di sini untuk memandang satu peristiwa mahapenting dalam peristiwa kita.  
  
Berpuluh-puluh th. kami bangsa Indonesia udah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kami lebih-lebih telah beratus-ratus tahun! Gelombang aksi kami untuk raih kemerdekaan kita itu tersedia naiknya dan ada turunnya, tapi jiwa kami tetap menuju ke arah cita-cita.  
  
Juga di didalam masa Jepang, bisnis kita untuk menggapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya. Di dalam masa Jepang ini, tampaknya saja kami menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tapi kami yakin kepada kebolehan sendiri.  
  
Sekarang tibalah saatnya kita terlalu menyita sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kami di di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil alih nasib dalam tangan sendiri dapat dapat berdiri dengan kuatnya.  
  
Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia berasal dari semua Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah mampir saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.  
  
Saudara-saudara! Dengan ini kami menunjukkan kebulatan tekad itu.  
Dengarkanlah proklamasi kami:  
  
P R O K L A M A S I  
Kami bangsa Indonesia bersama dengan ini tunjukkan kemerdekaan Indonesia.  
Hal-hal yang tentang pindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan bersama cara saksama dan di dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  
  
Djakarta, 17 Agustus 1945  
Atas nama bangsa Indonesia.  
Soekarno/Hatta.  
  
Demikianlah saudara-saudara! Kita saat ini sudah merdeka! Tidak ada suatu ikatan ulang yang mengikat tanah air kami dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita!  
  
Negara merdeka, negara Republik Indonesia! Merdeka, kekal, abadi! Insya Allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.  
  
Penyebaran teks proklamasi  
Wilayah Indonesia sangatlah luas. Komunikasi dan transportasi sekitar th. 1945 tetap benar-benar terbatas. Di samping itu, rintangan dan larangan untuk menyebarkan berita proklamasi oleh pasukan Jepang di Indonesia, merupakan sejumlah aspek yang memicu berita proklamasi mengalami keterlambatan di sejumlah daerah, khususnya di luar Jawa.  
  
Namun dengan penuh niat dan stimulus berjuang, pada selanjutnya peristiwa proklamasi diketahui oleh segenap rakyat Indonesia. Lebih jelasnya ikuti pembahasan di bawah ini. Penyebaran proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di area Jakarta bisa dilaksanakan secara cepat dan segera menyebar secara luas. Pada hari itu juga, teks proklamasi sudah hingga di tangan Kepala Bagian Radio berasal dari Kantor Domei (sekarang Kantor Berita ANTARA), Waidan B. Palenewen. Ia menerima teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia memerintahkan F. Wuz (seorang markonis), supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz laksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio sambil marah-marah, dikarenakan sadar berita proklamasi telah tersiar ke luar lewat udara.  
  
Meskipun orang Jepang berikut memerintahkan penghentian siaran berita proklamasi, namun Waidan Palenewen selalu menghendaki F. Wuz untuk tetap menyiarkan. Berita proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam hingga pukul 16.00 kala siaran berhenti. Akibat berasal dari penyiaran tersebut, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan memperlihatkan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar selanjutnya disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk. Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda bersama dengan Jusuf Ronodipuro (seorang pembaca berita di Radio Domei) ternyata memicu pemancar baru bersama dukungan teknisi radio, di antaranya Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru di Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah setelah itu berita proklamasi kemerdekaan disiarkan.  
  
Usaha dan perjuangan para pemuda dalam penyebarluasan berita proklamasi juga dilakukan lewat fasilitas pers dan surat selebaran. Hampir semua harian di Jawa didalam penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya merupakan koran pertama yang berisi berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang berjuang lewat tempat pers pada lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang. Proklamasi kemerdekaan juga disebarluaskan kepada rakyat Indonesia lewat pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api, bila bersama slogan Respect Our Constitution, August 17!!! (Hormatilah Konstitusi Kami, 17 Agustus!!!). Melalui beraneka cara dan fasilitas tersebut, selanjutnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat tersebar luas di wilayah Indonesia dan di luar negeri.  
  
Meskipun gunakan banyak tempat dan alat penyebaran, sebelum saat th. 2005, pihak Belanda sebagai penjajah Indonesia tak mengakui Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 (de facto) melainkan tahun 1949 tanggal 27 Desember sebagaimana pernyataan PBB (de jure) sebab mereka berpendapat bahwa terhadap tahun 1945, kekuasaan di Indonesia diserahkan kepada Sekutu, bukan dibebaskan oleh Jepang. Di samping lewat tempat massa, berita proklamasi juga disebarkan secara segera oleh para utusan tempat yang menghadiri sidang PPKI. Berikut ini para utusan PPKI yang turut menyebarkan berita proklamasi :  
Teuku Mohammad Hassan berasal dari Aceh,  
Sam Ratulangi dari Sulawesi,  
Ketut Pudja berasal dari Sunda Kecil (Bali),  
A. A. Hamidan dari Kalimantan.  
Peringatan 17 Agustus 1945  
Pengibaran Bendera Sang Saka Merah Putih pada tiap tiap perayaan 17 Agustus.  
Setiap th. pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini bersama dengan meriah. Mulai berasal dari lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, sampai upacara militer di Istana Merdeka, semua bagian dari masyarakat ikut berpartisipasi bersama langkah masing-masing.  
  
If you are you looking for more regarding Cara Seru review our site.

Location

Occupation

Cara Seru
Social Networks
Member Activity
0
Forum Posts
0
Topics
0
Questions
0
Answers
0
Question Comments
0
Liked
0
Received Likes
0/10
Rating
0
Blog Posts
0
Blog Comments
Share:
Skip to toolbar